Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Minggu, 21 September 2008

Cerpen : Salah Jurusan
Oleh : Indri Atmi

Hawa panas menyerubut masuk ke dalam bis yang hampir sarat dengan penumpang. Aku mengipas-ngipaskan majalah ke wajahku yang berkeringat dan mengkilap. Sesekali kuusap peluh di kening dengan tissue tangan yang tinggal beberapa lembar lagi. Terminal ini masih saja sibuk dengan segala aktifitasnya. Para pedagang keliling mulai berebut masuk ke dalam bis untuk menjajakan barang dagangannya. Ada yang jualan permen, rokok, es lilin, es dawet, lontong bakwan, gorengan, dan getuk goreng. Makanan khas Banyumas. Di terminal manapun rupanya berjualan di bis sudah merupakan hal yang biasa. Tergantung dari si awak bisnya membolehkan masuk atau tidak. Beruntung aku duduk di dekat jendela. Sehingga aku tak mempedulikan para pedagang yang menawarkan barang dagangannya padaku.

Perlahan kubuka kaca jendela sehingga semilir angin menyapu wajahku. Terik sinar matahari mulai memanas. Seolah sedang memanggang seluruh isi di terminal ini. Tampaknya orang – orang di sini tak mempedulikanya. Hanya aku saja yang rewel sendiri. Takut panaslah, takut hitamlah, gerahlah, baulah dan sebagainya. Tapi mau bagaimana lagi uang sudah habis. Kiriman dari ibu belum juga datang padahal uang semesteran paling lambat harus di bayar minggu depan. Belum lagi bayar tempat kos, uang makan sebulan, transport dan keperluan lain. Mau naik bis yang ber-ac saja tak cukup uangku. Jadi terpaksa naik bis ekonomi, berjubelan lagi. Untung saja aku mendapatkan tempat duduk.

Dari jedela kulihat seorang kakek yang sedang kebingungan mencari bis tujuannya. Di punggungnya yang membungkuk melekat tas ransel yang sudah lusuh. Kedua tangannya menjinjing dua dus bekas mie instant. Kakek itu celingukan kesana kemari, sepertinya ia buta huruf sehingga tak bisa langsung menemukan bis jurusannya.

”Banjar...Banjar…Banjarwaru…ayo…siap berangkat.” Kakek itu berjalan mendekati kondektur bis yang berteriak cempreng itu.

”Banjar, kek? Kakek mau kemana? Banjar?” kata kernek itu.

Dengan mulut yang masih terbuka dan nafas yang tersengal-sengal karena kelelahan membawa beban yang dibawanya, kakek itu hanya mengangguk pelan. Sebenarnya ada yang ingin dikatakan kakek itu tapi belum sempat kakek ia bicara, dengan sigap tangan sang kondektur tadi langsung mengambil dua dus jinjingan dari tangan kakek lalu masuk ke dalam bis yang aku tumpangi. Kakek itu pun menurut dan mengikuti sang kondektur lalu duduk di bangku sampingku yang kebetulan kosong.

Bau keringat tak sedap menyeruak menusuk hidungku. Aku membuang muka keluar jendela. Sesekali kupencet-pencet hidungku agar bisa mengusir bau itu barang sejenak. Bagaimana aku bisa tahan dengan bau ini sampai ke kota Banjarwaru yang kalau di tempuh perjalanan bis ini memakan waktu kurang lebih satu setengah jam?. Bisa mati aku. Aku terus menggerutu sendiri dengan keadaan ini. Tapi kasian, aku jadi tak enak sama kakek itu. Hati kecilku merasa iba padanya. Seharusnya aku menghormatinya. Jadi kutahan –tahan saja agar tidak menyinggung perasaannya. Aku masih saja menatap jalanan dari jendela bis. Angin kencang menyibak jilbaku yang baru-baru ini kukenakan. Yah..aku sudah berniat akan memakai jilbab ini sampai kapanpun. Dan ini kepulanganku yang pertama kali memakai jilbab dan akan aku perlihatkan pada Ibuku dan juga Kakakku satu-satunya. Pastilah mereka akan senang karena aku yang dikenal anak nakal dan tomboy bisa juga berubah jadi kalem dan feminim. Itu yang mereka harapkan.

Kakek itu sepertinya kelelahan lalu bersandar dengan malas, sesekali wajahnya melirikku. Sesekali aku menoleh pada kakek yang metatapku. Aku jadi tak enak hati. Aku hanya bisa tersenyum. Kakek itu tersenyum juga.

”Kakek mau kemana?” Tanyaku membuka percakapan. Setelah sering tersenyum.

”Kakek mau nengok cucu kakek ” jawabnya degan suara yang pelan dan bergetar karena sudah tua.

”Oh…kok sendirian?” tanyaku lagi.

”Ya, istri saya tak bisa ikut karena mabuk perjalanan. Lha wong naik angkot cuma 10 menit saja sudah muntah –muntah apalagi ini yang hampir satu jam lebih. Jadi kakek pergi sendirian terus. Kadang anak kakek yang datang ke rumah. Tapi anak kakek yang nomor tiga ini kayaknya sibuk terus jadi terpaksa kakek yang ke sana. Perbincangan dengan kakek itu terhenti karena sang kondektur menarik bayaran dari para penumpangnya.

Di persimpagan lampu merah bis pun berhenti. Masuk dua orang penumpang. Yang satunya penumpang, satunya lagi seorang bocah pengamen jalanan. Seperti biasa sebelum menghibur penumpang bocah itu mengucapkan salam pada para penumpang, sopir dan kondektur serta mendoakan penumpang semoga selamat sampai tujuan. Lalu dengan suara agak serak ia pun menyanyikan lagu:

Sebelum kau bosan

Sebelum aku menjemukan

Tolonglah kau ucapkan

Tolonglah engkau ceritakan

Semua yang indah

Semua yang cantik, berjanjilah…

Lalu bocah itu berganti lagu yang lain.

Panasnya matahari dan teriknya musim kering

Aku bernyanyi disini

Putuskan urat malu

Bernyanyi tanpa ragu

Wajah-wajah menatapku jemu…

Aku terus memperhatikan bocah pengamen itu, sambil mencari-cari uang receh yang nyelip di saku-saku tasku. Alhamdulillah ada. Lumayan. Bocah itu masih saja bernyanyi entah berapa lagu.

Di perempatan lampu merah bis berhenti lagi. Segera saja para pedagang asongan berebut masuk. Berjubelan dengan penumpang yang penuh sesak. Suara-suara kasar saling bertaburan di dalam bis sehingga suasana riuh seperti pasar. Bis pun berjalan lagi. Para pedagang mulai turun satu persatu. Setelah agak sepi bocah pengamen itu berbasa-basi lagi dan mendendangkan lagu yang entah yang keberapa kali.

Kalau diperhatikan baik-baik sebenarnya anak laki-laki itu cukup rapi. Umurnya kira-kira 8 tahun. Anak seumuran dia seharusnya siang ini sedang duduk manis mendengarkan gurunya mengajar. Tapi sungguh malang nasibnya. Aku masih beruntung masih bisa sekolah sampai perguruan tinggi. Padahal orang tuaku hanyalah petani bawang yang miskin. Tapi karena ada dorongan dari ibuku dan juga kakakku aku bisa tetap sekolah dengan biaya dari hasil bertani dan juga dari kakakku yang bekerja membuat batu bata.

Ayahku meninggal sejak aku masih dalam kandungan. Aku tak pernah melihat wajah ayahku secara langsung. Hanya lewat selembar foto hitam putih yang tertempel pada surat nikah dan juga pada KTP yang sampai saat ini masih disimpan ibuku dengan rapi.

Aku pun menyewa kamar di tempat yang sederhana dan hemat biaya. Teman-temanku baik semua. Perhatian dan yang paling utama sifat kekeluargaanya yang sangat erat. Namun yang membuatku terharu ternyata teman-temanku satu rumah banyak juga yang kuliah sambil bekerja. Mereka bisa mengatur waktu sehingga prestasi akademisnya tetap mengagumkan dan juga pinter-pinter. Aku jadi ketularan. Apalagi mereka juga aktif disetiap kegiatan kampus. Ada yang aktif di masjid kampus. Aku bersyukur mendapat hidayah berkat bimbingan mereka juga. Pokoknya mereka akan selalu ada disisiku. Baik senang maupun susah.

“Mbak, Bawang sudah lewat apa belum?” Kakek di sebelahku membuyarkan lamunanku. ”Eh…maaf tadi kakek nanya apa?” Aku yang tergagap balik bertanya.

”Aduh si Mbak ini malah bengong saja.” Kakek itu tersenyum melihatku.

“Kakek nanya Bawang sudah lewat apa belum?” Kakek itu mengulang pertanyaanya .

”Oh…Bawang tidak lewat sini, kek. Kakek mau kemana?” pertanyaanku terhenti karena bocah pengamen tadi menyodorkan bekas kantong permen padaku. Aku memasukan beberapa uang receh seratusan yang aku genggam sejak tadi. Kakek tadi mengangkat lima jari tangannya sambil berucap maaf pada bocah pengamen itu. Dengan senyuman dan anggukan bocah pengamen itu balik mengucapkan terima kasih. Aku membalas senyuman itu dan sekarang konsentrasi dengan kakek disebelahku.

”Kakek mau kerumah cucu kakek yang ada di Bawang. Rumahnya di belakang Rumah Sakit Islam Bawang, mbak.”

”Wah kakek salah naik bis. Kakek seharusnya naik bis jurusan Banjarnegara bukan ke Banjarwaru atau Banjartasik.” jelasku pada kakek. Kakek pun kelihatan bingung. Ia lalu memanggil sang kondektur dan meminta uangnya kembali karena kakek kehabisan ongkos. Tentu saja sang kondektur bersikeras tak akan mau mengembalikanya.

Nggak bisa begitu kek, bis ini sudah berjalan agak jauh masa’ mau naik bis gratis. Mana ada bis yang begitu.” Kata sang kondektur dengan ketusnya.

”Iya... tapi tadi kamu bilang Banjar, aku juga mau bilang Banjarnegara tapi kamu malahan langsung menyerubut tas jinjinganku. Makanya aku mengikutimu aku kira benar bis ini mau melewati Bawang.” Kata sang kakek dengan wajah memelas.

“Apa, kakek bilang? Tadi kan aku bilang Banjarwaru bukan Banjarnegara. Kakek aja yang nggak denger. Saya aja bicara dengan suara keras kok. Semua orang di terminal pun dengar suara saya. Dasar budeg, tuli!” Kata kondektur tak mau kalah. Segala sumpah serapah dilontarkan semua. Tak ada yang menengahi. Para penumpang banyak diam, takut berurusan dengan kondektur yang bertampang sangar, rambut gondrong lengan penuh tato,baju kaos hitam dan celana jins yang berjuntai. Mereka hanya menyaksikan saja.

Kakek itu kebingungan. Tangannya yang keriput mengusap-usap rambutnya yang beruban. Raut sedih dan kecewa tergambar jelas di wajahnya. Tangannya gemetar karena tua. Duh…kok jadi begini seandainya saja aku masih ada sisa uang pasti sudah aku kasihkan pada kakek itu. Tapi apa dayaku hari ini saja aku naik bis kelas ekonomi. Sisa uangku cuma bisa untuk ongkos naik ojek dari jalan raya sampai depan rumah yang jaraknya lumayan jauh. Kalau aku jalan kaki sih bisa tapi bisa berjam-jam sampai rumah dan hampir malam pula sampai rumahku. Dulu rumahku tak sejauh ini. Malahan dekat dengan pusat perbelanjaan juga dekat dengan jalan raya. Sekarang untuk bisa bertahan hidup keluargaku harus pindah rumah yaitu ke rumah Nenek. Apalagi aku cewek kalau jalan sendirian sangat berbahaya. Aku urungkan niatku untuk memberikan sisa ongkosku pada kakek tadi. Aku hanya bisa diam melihat keributan itu. Tiba-tiba seseorang menyodorkan uang recehan dan beberapa lembar uang ribuan pada kakek.

”Ini kek, buat ongkos kakek di jalan.” Kata bocah pengamen tadi. Rupanya sedari tadi bocah cilik itu memperhatikan keributan itu.

”Wah, tak usah cah bagus. Itu rejekimu.” Tolak si kakek.

”Tapi ini buat ongkos kakek. Nanti kakek tidak bisa pulang.” Bocah pengamen itu masih saja terus memaksa dan akhirnya kakek mau menerimanya juga. Sebagai imbalannya sang kakek memberinya beberapa buah jeruk pada bocah cilik itu. Dengan wajah sumringah bocah pengamen itu menerima buah jeruk itu.

”Terimakasih ya cah bagus, kakek doakan semoga hari ini kamu dapat rejeki yang banyak.” Kata kakek itu sambil mengelus-ngelus kepala bocah pengamen itu. Lembut. Berat rasanya sang kakek meninggalkan bocah itu. Kakek itu pun berkali-kali mengucapkan terima kasih lalu ia bergegas turun dari bis. Bocah pengamen itu lalu duduk di sebelahku dan mulai mengupas jeruknya. Karena merasa diperhatikan olehku bocah pengamen itu menawarkan buah jeruk itu padaku. Aku tersenyum dan menggeleng berkali-kali.

”Siapa namamu, dik?” dengan mulut penuh jeruk ia menjawab ”Rahman”. Aku pun membuang muka keluar jendela. Butiran kristal mulai jatuh di pelupuk mataku. Terharu. Segera aku usap dengan tisu. Aku malu di lihat oleh bocah pengamen di sebelahku. Biarpun ia miskin tapi ia kaya hati.

Senja temaran mulai turun di ufuk barat. Menyinari keindahan kota Tasik. Tak lama kemudian Sang kondektur pun berteriak “Simpang Tasik – Simpang Tasik.” Aku pun segera turun.

”Permisi ya, dik. Mbak mau turun di sini. Hati-hati ya, semoga saja hari ini kamu dapat uang yang banyak.” Kataku menirukan pesan kakek tadi. Bocah pengamen itu pun tersenyum dan mengangguk berkali-kali. Kulihat dari luar jendela bocah pengamen itu melambaikan tangan padaku hingga bis itu semakin menjauh tertelan dengan keramaian kota Tasik.

***

Bawang = Nama sebuah daerah di Jawa Tengah

Cak bagus = Panggilan untuk anak yang baik

Tidak ada komentar: